Ada cinta yang terus menggema di perjalanan hidupku.
Yakni cintamu padaku.
Kita bersama" menopang rasa ini dalam cengkrama ombak di dasar lautan,
Diatas hamparan pasir yang terjal,
Kita terus berusaha memupuknya meski terkadang di terjang badai.
Waktu bagai angin yang terus bersemilir melintasi indah kota,
Tak terasa ia telah lenyap di penghujung desa,
Tetapi cinta kita terus dan terus berkembang tak perduli akan adanya halauan.
Kini kita bagaikan secarik kertas dan pena.
Keduanya tak akan berfungsi apabila salah satunya tak ada.
Apalah arti kertas tanpa goresan tinta pena?
Apalah arti pena tanpa adanya lembaran kertas putih yang bermakna?.
Kau dan aku selalu melangkah bersama, menjalani nyatanya fana.
Kita sadar akan kesalahan dan kekeliruan ini.
Namun, apalah daya jika membuat hati ini mati.
Kita tau akibat yang kelak terjadi, tapi apalah daya.
Cinta mengelahkan segala.
Cinta menggelora, menghitamkan cinta namun tidak dengan hati.
Kita bersyukur, karena kita masih dijalan-Nya dan haus ridho-Nya.
Kita takkan pernah lupa, bahkan kita saling mengingatkan ketika kekeliruan melanda.
Kita bukan meninggikan kenegatifan, tetapi kita selalu berusaha menuju kebaikkan.
Karena kita punya cinta,
Cinta karna-Nya.
