Cinta, begitu sejuk bila dikata. Begitu sendu kala merindu dan begitu sempurna ketika bersanding dalam naungan-Nya. Cinta, merupakan syair suci atas karunia sang pencipta. Menggambarkan arti keindahan singgasana yang terletak di pelupuk mata bagi insan yang telah mempersiapkan hatinya untuk sebuah rasa yang disebut cinta. Kesempurnaan hati kian terasa saat cinta mulai menjelma tertahta rapi di lubuk hati seorang insan, sosok perindu yang mendamba dan menghamba pada sang pemilik cinta, Allah SWT,. Begitulah ukiran sejatinya cinta tercipta.
Asya, seorang gadis cantik bermata sayu
tengah berjalan di tepian kota, mengikuti arah trotoar yang menuntunnya
hingga sampai ke tujuan. Ia adalah seorang mahasiswa di Universitas
ternama di Indonesia. Saat ini, ia sedang menempuh pendidikan semester
VII jurusan Ilmu Administrasi Negara. Asya terkenal sosok yang ramah dan
sangat santun. Ia selalu menyapa dan menebar senyuman untuk setiap
insan yang bertegur sapa dan melewatinya. Ia begitu sabar dan penyayang
akan sesamanya dan juga merupakan seorang murobbi istimewa bagi adik –
adik yang dibinanya.
Suatu hari, saat Asya tengah singgah pada salah
satu warung terdekat, tak sengaja ia berpapasan dengan seorang laki –
laki berkacamata, berbadan tegap dan rupanya yang menawan. Asya berjalan
menundukkan kepalanya. Lelaki tersebut terhenti seketika menatapi Asya
yang tengah berjalan dengan diamnya.
“Assalamu’alaikum ukhti” ujar
lelaki itu, Ia memberanikan diri untuk memulai sebuah kalimat sebagai
pembuka awal perjumpaan Asya dengannya. Dalam hati ia berkata sungguh
menawan dirimu wanita solehah, dengan wajah tertunduk dan berpakaian
rapi menutupi seluruh tubuhmu, tiada liuk yang nampak, tiada celah untuk
ku lihat. Begitu mempesonanya dirimu.
“Wa’alaikumussalam
warohmatullah” jawab Asya dengan lembut dan senyuman khas dipipinya. Ia
terhenti dan berbalik sejenak, kemudian melangkah maju memasuki warung.
“Ya Robbi, engkaulah pemilik hati ini, janganlah Kau biarkan aku
terjerumus dalam dosamu. Sungguh aku ingin mencinta atas ridho dan
karunia-Mu. Jika ia memang jodohku, maka dekatkanlah aku dengannya,
namun bila tidak aku memohon kepada-Mu dengan keikhlasanku, jauhkanlah
aku dari mara bahaya itu amin,” Gumam Asya sembari mengambil belanjaan
dan segera pulang.
Hari pun berganti. Sejuknya embun pagi bersemilir
bersama angin dari pegunungan menuju kamar mungil nan rapi. Terlihat
Asya yang tengah sibuk menulis sesuatu pada secarik kertas di atas meja.
Nampak senyuman indah terlintas di pipinya saat ia tengah asik menulis.
Sesekali ia mengangkat kepalanya dan mengarahkan ke jendela, terlihat
pegunungan yang mulai merekah indah dengan pancaran sinar mentari. Dan
bergegas mempersiapkan diri untuk kembali ke kampus tercintanya.
Seperti hari – hari biasanya, Asya berjalan mengikuti trotoar yang
mengarahkan langsung ke kampusnya. Namun hari ini begitu nampak berbeda
dari hari biasanya, ia terlihat begitu ceria dengan senyuman menawan
yang terlintas di pipinya. Terlintas syarat kebahagiaan yang menggelora,
semuanya begitu jelas dari langkah semangat dan eratan tangan yang
menggenggam secarik kertas.
“Kak Asya!” terdengar teriakan dari belakang, Asya pun sontak berhenti dan membalikan badan.
“Kak Asya!” terdengar teriakan dari belakang, Asya pun sontak berhenti dan membalikan badan.
“Assalamu’alaikum kak Asya”
“Wa’alaikumussalam warohmatullah, Ika bagaimana kabarmu hari ini dek? cerah sekali dirimu hehe” Jawab Asya dengan wajah memerah dan tangan yang secara perlahan ia sembunyikan.
“Alhamdulillah baik kak. Kak Asya bisa saja, justru kakak yang terlihat begitu berbeda. Kakak sepertinya sedang berbahagia, aku melihat ada isyarat yang mengatakan bahwa kakak sedang mempesona hatinya hari ini hehe” Ika meledeknya dengan lucu.
“Wa’alaikumussalam warohmatullah, Ika bagaimana kabarmu hari ini dek? cerah sekali dirimu hehe” Jawab Asya dengan wajah memerah dan tangan yang secara perlahan ia sembunyikan.
“Alhamdulillah baik kak. Kak Asya bisa saja, justru kakak yang terlihat begitu berbeda. Kakak sepertinya sedang berbahagia, aku melihat ada isyarat yang mengatakan bahwa kakak sedang mempesona hatinya hari ini hehe” Ika meledeknya dengan lucu.
Asya merunduk, wajahnya memerah dan kesulitan untuk
menyembunyikan sesuatu. Ia begitu terlihat gugup dan salah tingkah. Lalu
ia berjalan dengan senyuman sayu. “Kamu lucu sekali dik, kakak hari ini
masih sama seperti hari kemarin tidak ada yang berbeda, masih sama
dengan orang yang sama dan kepribadian yang sama” Ujar Asya menutupi
rasa gugup dan malunya.
Ika yang sejak tadi memandanginya begitu
penasaran dan berusaha mencari ide agar dapat mengetahui suatu hal yang
tengah disembunyikan murobbinya. “Kak Asya, nanti malam boleh tidak aku
menginap dirumahmu. Aku ingin menceritakan sesuatu padamu, yaa mungkin
terlihat aneh tapi aku ingin sekali bercerita padamu. Oke sehabis
maghrib, aku akan datang. Assalamu’alaikum” Ika dengan berlarian kecil
meninggalkan Asya yang sejak tadi terangah dengan perkataannya yang
begitu cepat.
“Wa’alaikumsalam”, Asya sontak tersadar dari lamunannya dan bergegas menuju gedung ruangannya.
“Wa’alaikumsalam”, Asya sontak tersadar dari lamunannya dan bergegas menuju gedung ruangannya.
Sepulang kuliah, Asya kembali menyibukkan diri untuk berkumpul pada
teman – teman seperjuangannya. Mereka tengah asik merancang program yang
telah direncanakan. Berkumpul di sebuah lapangan rektorat yang begitu
hijau dengan kesejukan, membuatnya asik menulis progja yang sudah di
diskusikan. Keheningan terpecahkan saat seruan takbir terdengar lantang
menyambut salah seorang ikhwan yang akan membina dan mengarahkan mereka
dalam merancang dan melaksanakan program ini. Sejenak ia menghentikan
pekerjaannya, dan mengangkat kepala dan “Astaghfirullah hal’adzim
bukankah ia sosok yang berjumpa dengan ku kemarin, siapakah dia? dan
mengapa dia berada disini.” Pertanyaan muncul begitu berkepanjangan di
fikirannya, seolah – olah menari dengan irama sendu, ia menatap begitu
cepat dan berpaling seolah tak terjadi apa – apa, karena ia tak ingin
rekan - rekan yang berada disekelilingnya terlihat heran kala
memandangnya.
“Assala’mualaikum Warohmatullahi Wabarokatu,
perkenalkan ana bernama Arsyad dari jurusan Ilmu Komunikasi. Disini ana
sebagai ketua pelaksana dalam agenda yang tengah kita rencanakan ini.
Apakah tadi sudah di diskusikan masukan dari ana akhi?” Ia bertanya pada
seorang ikhwan disampingnya. “Alhamdulillah sudah akhi” terdengar
sahutan menjawab pertanyaannya.
Asya yang sejak tadi terdiam
membelenggu, merasa heran dengan hatinya. Ia bergegas menyelesaikan
pekerjaannya dan menyimak pemaparan dari ketua pelaksana tersebut.
Setelah selesai Asya dengan segera berpamitan pulang. Rekannya menatap
heran, karena tidak seperti biasanya dia terlihat seperti itu dan
terburu – buru untuk pulang.
Tengah asik dengan kesendirian, ia
berjalan dengan langkah yang begitu cepat. Tin tin, terdengar suara
motor menghampirinya. Saat berbalik ia terlihat mundur teratur. Begitu
terkejut ketika sosok itu membuka helmnya, “Arsyad” gumamnya.
“Assalamu’alaikum ukhti, boleh ana bertanya sesuatu?”
“Wa.. Wa’alaikumsalam akhi, ia boleh?” tuturnya terbata – bata dan kian merunduk.
“Apakah benar ukhti bernama Asya? seorang murobbi yang sering diceritakan oleh adik ana, dia begitu sangat senang dan gembira memiliki murobbi seperti antum. Oya, Kemarin kita sempat berpapasan diwarung sana bukan? Ana masih ingat, dan ada sebuah titipan dari ana, semoga ini menjadi langkah yang tepat dan dengan keridhoan Illahi”
“Wa.. Wa’alaikumsalam akhi, ia boleh?” tuturnya terbata – bata dan kian merunduk.
“Apakah benar ukhti bernama Asya? seorang murobbi yang sering diceritakan oleh adik ana, dia begitu sangat senang dan gembira memiliki murobbi seperti antum. Oya, Kemarin kita sempat berpapasan diwarung sana bukan? Ana masih ingat, dan ada sebuah titipan dari ana, semoga ini menjadi langkah yang tepat dan dengan keridhoan Illahi”
Lelaki itu
tersenyum dan memberikan secarik kertas dengan penuh harapan terlihat
di wajahnya. Asya yang hanya mengangguk dan menerima surat tersebut
segera mengambil dan berpamitan pulang. Ini merupakan pertemuan kedua
bagi Asya. Dengan langkah semakin cepat ia melaju dengan hati yang tak
sabar untuk membaca surat tersebut. Sesampainya dirumah ia bergegas
mempersiapkan diri untuk bermuhasabah kepada Sang Khalik dengan seruan
magribnya.
Magrib pun telah dilaksanakan. Seperti biasa Asya
bertilawah sebelum membuka buku mata kuliahnya. Setelah itu, ia
menghubungi Ika yang tadi berniat untuk menginap dirumahnya.
“Assalamu’alaiku, dik kamu sudah dimana?”
“Wa’alaikumsalam. Afwan kak, ana tidak jadi menginap, ana berharap kakak membaca secarik kertas yang sudah diberikan oleh kakak ana”.
“Surat?, hah iya surat pemberian Arsyad. Lalu apa hubungannya dengan Ika? Apa jangan – jangan Ika adalah… ah sebaiknya ana abaca dulu suratnya.”
“Wa’alaikumsalam. Afwan kak, ana tidak jadi menginap, ana berharap kakak membaca secarik kertas yang sudah diberikan oleh kakak ana”.
“Surat?, hah iya surat pemberian Arsyad. Lalu apa hubungannya dengan Ika? Apa jangan – jangan Ika adalah… ah sebaiknya ana abaca dulu suratnya.”
“Assal’mualaikum untukmu wahai hati yang ku ketuk. Aku
mencoba menyampaikan pesan ini melalui perkataan hati yang tak lepas
dari Tanya yang selalu menggangguku. Maaf jika pesanku terlihat lancang,
namun ana sudah sejak lama memperhatikanmu, dan juga mendapatkan
informasi selalu dari adik ana, Ika. Dengan kesungguhan hati ana ingin
meminangmu dengan kado istimewa yang telah ana titipkan kepada Ibumu.
Maaf jika ana telah datang dan tanpa seizinmu. Namun sudikah kiranya kau
menuruni tangga kamarmu dan bergabunglah bersama keluarga ini?”
Asya terdiam dan memikirkan isi surat itu, dan membaca pesan terahir
dalam kutipan itu. Dengan segera ia menuruni tangga beserta mukenah yang
belum ia lepaskan. Ia berlarian dengan kepalan surat miliknya dan
pemberian dari Arsyad. Sesampainya di ruang tamu, “Bunda? Ika, kamu
sudah ada disini, kenapa tidak keatas dik? Lalu ia menengok disebelah
kiri terlihat Arsyad dan kedua orang tuanya dengan Al- Quran di
tangannya. Arsya terdiam berdiri terpaku dalam kebingungan.
“Anak
ku, kami baru saja menerima Arsyad sebagai pendampingmu. Bunda berharap
kamu dapat menerimanya. Al-Quran itu adalah kalam Illahi yang telah ia
khatamkan baru saja, sebagai mas kawin untukmu. Apakah kau suka” ujar
ibunda Arsya.
“Bunda, inilah kata hatiku.” Dengan lembut ia membaca
surat yang telah ditulisnya, Wahai kau adam, jika Allah mengizinkan, aku
ingin menjadi mahrom mu, pinanglah aku dengan Al-Quran. Aku ingin kau
persembahkan itu untuk kedua orang tuaku, dan bersahaja melamarku dengan
ketenangan hatimu.”
Semua yang ada bersyukur dan berbahagia.
Ternyata cinta memang begitu indah dan sempurna. Allah pasti akan
menyatukan insan yang menghamba dan memohon kepadanya. Kisah Asya dan
Arsyad yang menyatu karena doa dan harapan yang selalu mereka panjatkan.
Alhamdulillah, kini mereka telah merencanakan pernikahan mereka yang
akan berlangsung seminggu setelah proses melamar. (end)
