Dia datang disaat ku telah lupa.
Dia terus mengusik ku seolah ia benar" sayang padaku.
Namun ternyata itu hanya berjalan dua hari saja.
Setelah itu dia kembli menghilang.
Entah apa maksut hatinya padaku.
Apakah ini sebuah permainan yang membingungkan atau hanya kiasan.
Dia tak pernah mengerti segala keluhku,
Aku membutuhkannya layaknya air di tengah kemarau berkepanjangan, namun ia enggan.
Aku sangat bingung padanya, hingga saat ini aku tak tau bagaimana bentuk perasaanku padanya.
Haruskah aku membenci dan melupakannya?
Itu sungguh tidak akan mungkin.
Bagaimanapun tanpanya aku tak akan ada sampai saat ini.
Tanpanya aku tak akan bisa merasakan nikmatnya hidup.
Tapi mengapa ia menyia"kan aku yang katanya anugrah terindah memiliki buah hati.
Aku merasa layaknya orang yang terbengkalai dalam hamparan usang.
Tak mengerti maksut dan nikmat hidup.
Aku hanya mengerti apa itu pahit dan kelamnya hidup.
Tanpa cahaya aku berdiri.
Dalam hati tak lelah ku berbicara dan memohon pada sang Khalik.
Berharap ia kan datang menjenguk dan merawatku yang sakit.
Mengobati setiap tetes darah yang mengalir.
Mengelusku disaatku lemah tak berdaya.
Terus memberikan semangat kehidupan yang indah di depan sana.
Dan membayangkan betapa indahnya menjadi sosok wanita yang luar biasa dengan segala perjuangannya.
Tapi semua hanyalah semu.
Hanya angan yang tak akan pernah sampai.
Aku selalu berdoa dan berharap.
Agar kau datang menjenguk dan menjemputku untuk kembali bersama yang lain dalam satu atap sederhana.

No comments:
Post a Comment