Politik    Sosial    Budaya    Ekonomi    Wisata    Hiburan    Sepakbola    Kuliner    Film   
Home » , , , » AJARAN YANG MEMATIKAN

AJARAN YANG MEMATIKAN

Posted by Kumpulan Puisi dan Cerpen Tiara on Monday, 6 April 2015


Masa lalu itu membuatku sangat sulit tuk bangkit. Meninggalkan keterpurukan dan semakin melemah. Kenangan itu membuatku takut tuk kembali menatap yang katanya “ada cinta indah” disana. Luka yang bersemi mengubur rasa dan tak ingin lagi melakukannya. Hidupku bagaikan belantara yang gelap, tak ada sesiapa pun disana. Hanya pepohonan rindang yang setia mencekam kesunyian. Hidupku menjadi sepi, sungguh tak berarti. Namun bilamana ku ingat kembali masa indah yang dulu ada, langkah ku tergerak tuk kembali mencobanya. Tapi aku takut, aku takut akan adanya dusta tuk yang kedua. Aku hanya terdiam mengingatnya, meski ingin tapi tak mampu. Hingga akhirnya, kehadiran para sahabat yang terikat kuat akan adanya ukhuwah diantaranya, meski terpisahkan oleh jarak yang berjauhan, namun sangat cukup tuk membuka mata hati yang telah lama mati. Tidak – tidak, tidak untuk secara keseluruhan karena, aku bukanlah sosok yang mudah tuk melupakan. Rasa takut yang telah tertanam dan semakin mencekam, sungguh membuat ku takut. Takut tak dapat mencinta tuk yang kedua.

Nama ku Indah terlahir dari rahim seorang Ibu yang penuh pengorbanan dan perjuangan dalam melintasi hidupnya. Membesarkan anak – anaknya dengan penuh kasih sayang hingga dapat berjalan tegap menopang keterpurukan dunia dan indahnya syurga. Sebut saja aku gadis merah nan ceria, itu menurut salah satu murobbi yang terus membina ku.

Sebelum menginjak usia dewasa, ada kenangan kelam melekat dalam diri yang belum mengerti apa itu cinta dalam diam dan apa itu cinta karena-Nya, cinta yang di Ridhoi oleh Tuhannya. Kesenangan sesaat telah mendekati ku terlebih dahulu sebelum mereka (para sahabat cinta dalam diam) datang membantu tuk menjadi syar’i.

Saat berumur 16 tahun, saat itulah awal cinta yang salah tercipta. Aku menjalin ikatan dengan seorang pria yang tak jauh dari lingkungan tempat tinggalku. Sebut saja aku berpacaran dengan pria itu. Awal perkenalan yang terjadi karena adanya paksaan dari teman dekat ku saat itu. Ia memaksa agar aku mau menerima lelaki teman dekatnya. Dengan berat hati, ku coba membuka hati padanya hingga hubungan ini berjalan mengikuti alur permainan yang tak ku mengerti. Ia mengajarkan cara berpacaran yang menurutku sekarang adalah salah besar. Ia membuat sosok kepolosan menjadi liar, beerpergian kesana kemari mengikuti kemauannya. Semua itu terjadi selama 3 tahun lamanya, hingga kelulusan SNMPTN yang ku jalani saat itu. Meski telah berpisah, kami masih saja dekat layaknya sepasang kekasih. Tentu saja semua itu tidak berjalan lama, manakala aku mulai disibukan oleh kegiatan menjadi mahasiswa baru saat itu.

Sejak masa itu, hari – hari ku mulai terisi dengan banyaknya kegiatan kampus. Aku sudah mulai sedikit melupakannya. Memang sangat sulit tuk melupakannya begitu saja, meski sudah tak memiliki ikatan pacaran lagi, ia tetap saja terus menghubungiku dan memohon tuk kembali padanya. Ia menangis meminta maaf atas apa yang telah ia lakukan padaku dan berjanji tidak mengulanginya tuk yang kedua kali. Perkataannya begitu sangat meyakinkan ku, aku yang saat itu tertahan agar tetap menyendiri, merasa tergugah dahsyat mendengar tangisan lelaki itu. Ahirnya ku jalani kembali masa itu, masa pacaran yang pada saat itu terlihat indah dan senang saat dirasa. Ia memberi kenyamanan padaku dan aku menerima itu seolah tak akan ada kematian. Aku yang memang bisa dibilang belum berbobot sama sekali mengenai agama, dengan begitu mudahnya terpaut pada cintanya yang hanya sesaat membuat senyuman.

Bulan pun berganti, perkuliahan pun sudah dimulai. Saat perkenalan UKMF lalu, tubuhku bergetar mendengar seruan dan lantunan suci yang di ucapkan oleh serombongan mahasiswa/i yang mengendarai motor memasuki lapangan kecil beratapkan tenda. Mereka terhenti saat ketua pelaksana memberi aba-aba.
 Dengan suara menyeruak kesunyian sejenak, mereka berucap takbir yang teramat dahsyat semangat jiwa muda pejuang Islam. Mendengar itu, tubuhku bergetar tak menentu, terasa lemah tubuh ini dan serasa akan tersungkur di tanah. Panas dingin terasa saat mereka mulai mendekati kami dibawah tenda, dengan takbir yang tiada henti melintasi ku dan berada tepat di hadapan ku barisan – barisan muslimah syar’i nan cantik penuh kelembutan.

Terlihat gersang bola mata ku menatap mereka. Penuh linangan air mata yang menyala – nyala seperti akan turun hujan deras. Seorang gadis cantik menghampiri ku dan memberikan kertas kecil dihiasi bunga dan kata mutiara islami. Dengan segera aku menerimanya dan ternyata itu adalah selembaran formulir pendaftaran untuk menjadi bagian di dalamnya. Ku sentuh tas dan mengambi pena terlentang. Dengan tangan gemetar ku tulis perlahan di atas kertas itu. Setelah usai, datang lagi sosok anggun yang berbeda menghampiri dan meminta kertas itu. Ya, itulah UKMF pertama yang ku ikuti saat perkuliahan mulai aktif.

Singkatnya, aku sering mengikuti setiap agenda yang ada di UKMF tersebut. Senyum semangat perlahan terpancarkan dari wajah yang sedikit pemalu pada awalnya. Mereka pun selalu menyambut kehadiran ku dengan senyum indah di wajahnya. Tetap saja aku tak dapat lengah dari handphone yang terus saja mengganggu. Salah seorang akhwat datang menghampiri, “nduk, ayo kesana kita ikutan bermain games. Sudah, Hp nya nanti lagi ya nduk, sayang lo kalau di lewatkan permainan serunya”. Dengan gagap aku mengiyakan.

Kesejukan mulai kurasakan saat takbir selalu menggema di tiap sisi permainan. Kalimah – kalimah islam pun selalu terlontar dari bibir para muslimah itu, dari awal permainan hingga berakhirnya agenda. Aku yang saat itu hanya menggunakan celana training dan kaos membentuk tubuh serta jilbab saringan tahu, merasa malu dan tak mampu tuk berkata. Rasanya ingin sekali aku keluar dari lingkaran dunia yang sangat membingungkan ini, hingga pada akhirnya diri ini terbina oleh kehadiran muslimah syar’i penakluk hati.  Sosok pejuang islam yang tak pernah lelah untuk terus mengajarkan ku akan kebenaran yang di inginkan oleh Allah. Hingga perlahan ia menggubris hati ku untuk cinta dalam diam dan syar’i demi Allah SWT.

Setiap perkataan yang terlontar darinya, aku mencoba untuk mencerna baiknya untuk diri ini. Bersamaan dengannya pula, ada sosok sahabat terdekat yang selalu mendukung ku untuk bersyar’i. “Ya Allah, tuntunlah aku agar selalu bersyukur akan nikmat dan hadir-Mu”. Dengan bismillah ku sibakan hijab di kepalaku hingga menutupi tubuh. Mencoba mengganti jeans dengan gamis berurai, Subhanallah begitu tentram rasa hati, begitu damai rasa jiwa. Sungguh ajaran mereka tak akan ku lupa. Begitu halus dan mempesona nikmatnya. Ucapannya (murobbi) yang lembut tak pernah ku lupa walau sepatah kata. Sangat ku ingat, ketika hari lahir ku tiba ia mengucapkan selamat pada ku melalui pesan singkat SMS.

“Dik, semoga selalu hikmah terbaik yang mampu kau reguk. Tak selalu tentang bahagia jalan hidupmu kelak. Tapi sebagai hamba yang mempercayai tiap ketentuan-Nya, putuskanlah untuk selalu bahagia dan bersyukur. Maka kau akan menjadi manusia yang dicinta manusia dan Sang Pencipta. In shaa Allah”.

Dalam hati aku berbisik, “mbak kini aku memenuhi panggilan Tuhan ku, untuk beristiqomah dijalannya. Ku mohon pada kalian para akhwat tangguh jangan pernah berhenti tuk selalu mengajarkan ku akan keridhoan”.

Begitu tulus dan murni kasih sayang Allah selama aku mengenakan hijab. Begitu banyak rizki yang berdatangan tatkala niat telah tersalurkan. Begitu hikmat tatkala cinta yang salah terlupakan. Dan akan selalu ku ingat untuk cinta dalam diam seperti yang mereka ajarkan.

Canda tawa menghiasi kami para muslimah di UKMF ini. Bercerita tiada henti seolah tiada hari lagi. Tapi, mereka memang begitu sangat mahal untuk tidak dirindukan. Ketika tabir mulai berganti, saat kuliah ku memanggil tuk kembali rapi. Saat itulah hidup ini kembali terasa hampa. Ulah cinta yang tak tertahan menghantui jiwa, selalu merayu dan menggoda. Tak sadar aku akan kehadiran syaiton yang selalu berbisik di telinga dan memainkan jari untuk bermaksiat hati. Aku kembali melakukannya, cinta yang salah. Cinta yang selalu menggoda, cinta yang tak pernah ada artinya. Aku pun menyadarinya, tetapi hati terasa sangat berat untuk mengatakan tidak. Hingga cinta berawal rasa berahir cinta diatas cinta.

Sosok itu, akhwat yang selalu menegurku kembali mengingatkan ku. Meski letaknya sangat jauh di ujung sebrang, ia tak pernah bosan. Tapi syaiton terlalu jauh menggerogoti hatiku. Namun, akhwat tersebut tak kenal lelah, kata mutiara, firman, dan lain sebagainya yang berbau islami terus saja ia kirimkan untukku. Karena baginya aku adalah sosok anak kecil yang harus terus dibina. Aku merasa sangat bangga dengan anggapan itu. Karenanya aku bisa melangkah sejauh ini, hingga akhirnya sampailah ia pada kejenuhan yang perkataannya tak lagi terfikirkan olehku. Kejenuhannya membuatku kesepian dan tak ingin ia menjauhi ku. Aku berkata pada lelaki itu bahwa aku tak ingin cinta ini diteruskan. Ia menolak permintaanku, dan memaksa ku untuk mengabaikan itu. Aku terkesima dan sontak menurutinya.

Lama ku jalani ini dengannya, tibalah masa dimana aku harus mengetahui ia yang sesungguhnya. Sosok lelaki yang tak bisa menghargai wanita, bahkan ia pernah menghancurkan wanita dan aku tak mau ditaklukannya jua. Aku mengharap kedatangannya, berniat untuk memutuskan hubungan ini. Ia pun datang dan bertanya untuk apa ia berada disini. Setelah menjelaskan, sang lelaki marah dan mencoba tuk memaksaku. terkejut diri tak kuasa tuk berlari, menangis menjerit ketika ia mendekat, Akhirnya sosok datang memergoki ia yang tengah berjalan mendekati ku garang. Alhamdulillah ya Robb, sungguh kasih Mu tiada terkira tak pernah jemu dan menjauhi ku. Itulah ahir cinta yang pisahkan untuk diri ini agar menjadi lebih baik.

Aku sangat merindukan sosok itu, akhwat tangguh yang menyayangiku. Ku hampiri ia dan menjelaskan duka ku. Ia menangis dan mengusap bahu ku. Aku tak bisa membayangkan bagaimana saat aku tak tertolong kala itu, hancurnya aku hancurlah masa depanku. Dan sejak saat itulah, aku tak ingin mencinta tuk yang kedua. Kecewa teramat dalam yang kurasakan tak dapat aku lukiskan, sungguh sangat membenci kebodohan diri ini. Menyalahkan iman dalam kenikmatan. Sekarang, aku hanya ingin mencinta ketika cinta datang dengan akadnya. Cinta yang sebenarnya cinta karena kecintaan dan kegilaannya pada Tuhannya.

Pelajaran sangat ku petik dari peliknya hari kala itu, manakala cinta membabi buta keteguhan terhadap keimanan Tuhan lah sebagai obat mujarab yang tak tergantikan. Dan memang sesungguhnya, cinta (pacaran) itu tak pernah ada dalam Al-Qur’an. Bilamana diri tak dapat menghindar, bersegeralah meminta perlindungan dari Allah dan makhluk yang menyayangi karena ukhuwah. Meski kini jarak kami sangat berjauhan, namun langkah tetap tertahankan. Menyayangi selalu “akhwat tangguh” dariku gadis merah ceriamu.

Dan kini akhir kisah cinta yang salah tak lagi ku menggubrishnya. Ku simpan ia dalah risalah kebodohan. Sungguh syar’i karena Allah adalah kebenaran. Kini hariku terisi dengan kegiatan keagamaan bersama para sahabat ukhuwah dimana pun berada. Bahagianya hati tak dapat terlukiskan ketika diri menyempatkan jemari tuk menulis dan merangkai kembali, penggalan kisah yang telah lama basi. Salam ukhuwah cinta yang islami dari hati, untuk Mu wahai Robbi.

SHARE :
CB Blogger
 
Copyright © 2014 Kumpulan Puisi dan Cerpen Tiara. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Template by Creating Website and CB Blogger