Kebanyakan anak-anak muda mengeluh ketika berada jauh dari rumah asalnya, sebut saja merantau. Dari sekian banyak orang yang merantau mungkin aku termasuk salah satu dari beberapa orang yang merasa tidak bisa terlalu jauh dari ibunya. Namun, apalah arti kehidupan bila tidak berpendidikan. Menuntut ilmu menjadi prioritas utama saat ini agar mudah dalam mencari pekerjaan, akan tetapi banyak juga dari kalangan yang kurang mampu putus sekolah atau malah tidak sekolah sama sekali dengan alasan yang sama yakni tidak memiliki biaya untuk sekolah. Banyak sekali para remaja yang mengeluh saat memulai hidup sendiri, selalu saja merasa tak betah bahkan selalu pulang jika ada hari libur dan bahkan meliburkan diri. Menangis dalam kesendirian itu yang paling sering terjadi disaat mulai merindukan kasih sayang orang tua dirumah. Itulah yang sangat sering aku rasakan saat ini ketika aku sudah mulai duduk di bangku kuliah.
Rindu, itulah perasaan yang sangat sering muncul ketika malam telah datang, memandangi wajahnya yang anggun hanya itulah yang dapat aku lakukan sebelum diri ini mulai terlelap. Aku selalu memanggil namanya dikala mata ini akan terpejam, “apa kau bisa merasakannya ibu?” kata-kata itulah yang selalu tertanam dihatiku sembari memejamkan kedua mataku. Hari-hari terus berganti, namun tak kunjung satupun kabar yang masuk dalam handphone ku. Pesan yang telah ku kirimkan untuk ibu, hingga saat ini tak ada yang tersampaikan (pending). Sedih sangat aku rasakan, sungguh rasa rindu ini belum juga terbalaskan. Resah gelisah tak menentu, “aku ingin tahu kabar darimu ibu!” kesal telah menjelma dalam tubuhku, prasangka buruk kini telah mengalir dalam jiwaku. Namun, masih saja kau tak menghubungi ku bu?. “Dimanakah engkau dikala aku membutuhkanmu, tak terbesitkah sedikit saja rasa ingin tahu mu tentang ku disini, tak tersiratkah rasa rindumu padaku bu?” selalu saja hatiku berkata demikian, hidup dirantauan dengan penuh tanda tanya.
Tak terasa ini untuk kesekian harinya, Ibu tetap saja belum memberi kabar dan juga menanyakan apakah aku baik-baik saja. Semangat ku pun tak ada, aku selalu saja memikirkan ibu-ibu dan ibu. rasanya aku ingin sekali pulang untuk menjumpainya. Hatiku terus saja bertanya-tanya dimanakah ibu ku saat ini? Apakah ia tak pernah pulang ke liwa? Karena, hingga saat ini ia menjadi guru SD di Sedampah Indah yang merupakan desa terpencil dari sebuah kota kecil yang mana disana tidak ada sinyal sedikit pun. Biasanya Ibu pulang setiap hari sabtu dan kembali lagi pada hari senin. Tapi kali ini, ia benar-benar tak menghubungiku atau malah ia sedang tak ada pulsa?. Fikiran positif kini perlahan telah menggerogoti sifat buruk ku, secara perlahan kini aku mulai belajar dewasa dan mencoba memahami ibu ku. “mugkin ia sedang sibuk ” itulah kata-kata yang saat ini ku tanam. Kedewasaan ku kini sudah mulai berkembang, aku sudah mulai memikirkan masa depan ku untuk membahagiakan ibu serta adik-adik ku. Aku harus bisa menjadi contoh untuk adik-adik ku, aku tak ingin menjadi seorang kakak yang buruk. Bagaimana pun caranya aku harus menjadi yang terbaik. Namun, meskipun tekad ku kini telah ku rangkai tetapi tetap saja dalam hati ini masih bertanya-tanya mengapa ibu tidak menghubungi ku.
Waktu demi waktu telah ku lalui, hari-hari ku saat ini sudah mulai terisi dengan berbagai macam kegiatan dan juga keindahan memiliki cinta. Yaa, saat ini aku sudah mulai jatuh cinta lagi setelah sekian lama aku menahan untuk tidak jatuh cinta namun, ia telah datang membawa sejuta warna dalam hidupku. Semangatku kini perlahan mulai mencair karena hadirnya sosok ikhwan yang teramat sangat aku sayangi. Tapi, kebahagiaan itu tetap saja belum lengkap tanpa adanya kabar dari seorang ibu.
Lama sudah aku menunggu kabar darinya, setiap handphone ku berdering aku selalu menduga bahwa itu adalah ibu, namun ternyata itu dari seseorang yang juga berarti untukku dia adalah Rifki Andriansyah yang selalu ku panggil dengan sebutan “kakak”. Lama-kelamaan aku sudah mulai membiasakan diri untuk bersikap sangat dekat dengannya, hingga akhirnya dialah tempat aku bermanja-manja selain Ibu. Kini hatiku mulai terhibur karena kehadirannya, ia yang selalu menemaniku dan selalu ada waktu untuk ku. Kemanapun aku pergi disana pula selalu ada dia, dia yang selalu ada di hatiku.
Bulan kini telah berganti, namun tak kunjung ku dapatkan kabar darinya. Setiap saat selalu ku periksa handphone ku dengan berharap terselip satu saja pesan darinya. Kring kriing hanphone ku berdering untuk kesekian kalinya, terasa malas sekali aku membukanya karena aku tahu itu bukanlah pesan dari ibu. Lama tak ku baca, hingga 2 jam berlalu baru ku buka dan ternyata.. “ah Ibu” aku berteriak kegirangan dan langsung mencoba menelpon nya tapi “nomor yang anda tujui sedang tidak aktif atau berada di luar service area” aku terdiam. Terasa kesal yang amat mendalam di hatiku, mengapa aku menyia-nyiakan pesan dari ibu.
Lama sudah aku terdiam, tanpa berkata dan bergerak tiba-tiba “nananannanana” handphone ku kembali berdering dan ternyata itu adalah telepon dari ibu ku. Dengan segera ku angkat dan berteriak “Ibu!!” lama sudah ku menunggu kabar darimu, mengapa kau lama sekali tak menelponku? aku sangat merindukanmu Ibu, apa kau baik-baik saja? bagaimana kabar adikku?”
“Ibu baik-baik saja nak, adik-adik mu juga demikian. Kau sendiri bagaimana nak?
“Aku pun demikian ibu. Bu mengapa baru hari ini menghubungiku? Ibu kemana saja ahir-ahir ini?”
“Ibu tidak kemana-mana nak, Ibu tak menghubungimu bukan karena ibu melupakanmu. Disini Ibu sedang sibuk berkebun mencari nafkah untuk mengirimimu uang saku, agar engkau bisa makan dan belanja seperti sahabat-sahabatmu disana. Maafkan ibu yang tak pernah menghubungimu, Ibu takut mengganggu aktivitasmu dan mengganggu konsentrasi belajarmu. Ibu disini selalu mendo’akanmu nak, dan juga selalu melihatmu tersenyum dalam bingkai itu. Ibu hanya ingin mengatakan jaga kesehatanmu disana, jangan bertingkah laku yang tidak senonoh, hormati yang lebih tua dan hargai teman-temanmu. Disana saudaramu tidaklah banyak, jadi ibu tidak bisa mengawasimu selalu.
Tersentuh anyuhlah hatiku mendengar perkataan Ibu. Ternyata Ibu sangat memperdulikan aku dan bahkan selalu menatap dan mendo’akan aku dari kejauhan. “Oh ibu maafkanlah aku” kata-kata itu kini telah membaur dalam darah ku. Maafkanlah aku Ibu, aku terlalu larut dalam prasangka buruk ini, aku terlalu takut engkau melupakan aku.
“ baiklah bu, aku akan menjaga segala nasihatmu”.
Ahirnya suara yang sangat lembut terdengarlah di telingaku, kerinduanku kini telah terbalaskan, betapa senangnya hatiku mendengar kata demi kata yang terlontar dari ibu ku. Kini segala penat yang pernah menggerogoti benakku, sirnalah sudah. Mengapa? Karena tidak sedikitpun ibu lengah dari anak-anaknya. Ibu selalu memikirkan anaknya dan selalu berdo’a untuk kebaikan anak-anaknya. Ibu lebih dari segalanya. Bahkan permata pun tak sanggup untuk menyainginya. Kasih sayang ibu tak akan pernah sirna dan tak akan pernah ternilai harganya.
---end----
Sahabat ku, janganlah kalian sedikit saja lengah dari ibu. Karena ibu, adalah apa yang kalian harapkan. Tidak sedikitpun ibu meluputkan mata, hati dan fikirannya dari kita anak-anaknya. Mari kita sayangi ibu kita melebihi apa pun, peluk dan ciumlah ia sebagai tanda rasa syukur dan berterima kasih padanya. Sahabatku, cinta ibu adalah cinta yang hakiki seperti Allah SWT, yang maha tinggi dan hakiki. Selamat Hari IBU :)
