Wednesday, 22 April 2015

Kau, Aku dan Al-Quran Pinangan Mu


Cinta, begitu sejuk bila dikata. Begitu sendu kala merindu dan begitu sempurna ketika bersanding dalam naungan-Nya. Cinta, merupakan syair suci atas karunia sang pencipta. Menggambarkan arti keindahan singgasana yang terletak di pelupuk mata bagi insan yang telah mempersiapkan hatinya untuk sebuah rasa yang disebut cinta. Kesempurnaan hati kian terasa saat cinta mulai menjelma tertahta rapi di lubuk hati seorang insan, sosok perindu yang mendamba dan menghamba pada sang pemilik cinta, Allah SWT,. Begitulah ukiran sejatinya cinta tercipta.
Asya, seorang gadis cantik bermata sayu tengah berjalan di tepian kota, mengikuti arah trotoar yang menuntunnya hingga sampai ke tujuan. Ia adalah seorang mahasiswa di Universitas ternama di Indonesia. Saat ini, ia sedang menempuh pendidikan semester VII jurusan Ilmu Administrasi Negara. Asya terkenal sosok yang ramah dan sangat santun. Ia selalu menyapa dan menebar senyuman untuk setiap insan yang bertegur sapa dan melewatinya. Ia begitu sabar dan penyayang akan sesamanya dan juga merupakan seorang murobbi istimewa bagi adik – adik yang dibinanya.
Suatu hari, saat Asya tengah singgah pada salah satu warung terdekat, tak sengaja ia berpapasan dengan seorang laki – laki berkacamata, berbadan tegap dan rupanya yang menawan. Asya berjalan menundukkan kepalanya. Lelaki tersebut terhenti seketika menatapi Asya yang tengah berjalan dengan diamnya.
“Assalamu’alaikum ukhti” ujar lelaki itu, Ia memberanikan diri untuk memulai sebuah kalimat sebagai pembuka awal perjumpaan Asya dengannya. Dalam hati ia berkata sungguh menawan dirimu wanita solehah, dengan wajah tertunduk dan berpakaian rapi menutupi seluruh tubuhmu, tiada liuk yang nampak, tiada celah untuk ku lihat. Begitu mempesonanya dirimu.
“Wa’alaikumussalam warohmatullah” jawab Asya dengan lembut dan senyuman khas dipipinya. Ia terhenti dan berbalik sejenak, kemudian melangkah maju memasuki warung. “Ya Robbi, engkaulah pemilik hati ini, janganlah Kau biarkan aku terjerumus dalam dosamu. Sungguh aku ingin mencinta atas ridho dan karunia-Mu. Jika ia memang jodohku, maka dekatkanlah aku dengannya, namun bila tidak aku memohon kepada-Mu dengan keikhlasanku, jauhkanlah aku dari mara bahaya itu amin,” Gumam Asya sembari mengambil belanjaan dan segera pulang.
Hari pun berganti. Sejuknya embun pagi bersemilir bersama angin dari pegunungan menuju kamar mungil nan rapi. Terlihat Asya yang tengah sibuk menulis sesuatu pada secarik kertas di atas meja. Nampak senyuman indah terlintas di pipinya saat ia tengah asik menulis. Sesekali ia mengangkat kepalanya dan mengarahkan ke jendela, terlihat pegunungan yang mulai merekah indah dengan pancaran sinar mentari. Dan bergegas mempersiapkan diri untuk kembali ke kampus tercintanya.
Seperti hari – hari biasanya, Asya berjalan mengikuti trotoar yang mengarahkan langsung ke kampusnya. Namun hari ini begitu nampak berbeda dari hari biasanya, ia terlihat begitu ceria dengan senyuman menawan yang terlintas di pipinya. Terlintas syarat kebahagiaan yang menggelora, semuanya begitu jelas dari langkah semangat dan eratan tangan yang menggenggam secarik kertas.
“Kak Asya!” terdengar teriakan dari belakang, Asya pun sontak berhenti dan membalikan badan.
“Assalamu’alaikum kak Asya”
“Wa’alaikumussalam warohmatullah, Ika bagaimana kabarmu hari ini dek? cerah sekali dirimu hehe” Jawab Asya dengan wajah memerah dan tangan yang secara perlahan ia sembunyikan.
“Alhamdulillah baik kak. Kak Asya bisa saja, justru kakak yang terlihat begitu berbeda. Kakak sepertinya sedang berbahagia, aku melihat ada isyarat yang mengatakan bahwa kakak sedang mempesona hatinya hari ini hehe” Ika meledeknya dengan lucu.
Asya merunduk, wajahnya memerah dan kesulitan untuk menyembunyikan sesuatu. Ia begitu terlihat gugup dan salah tingkah. Lalu ia berjalan dengan senyuman sayu. “Kamu lucu sekali dik, kakak hari ini masih sama seperti hari kemarin tidak ada yang berbeda, masih sama dengan orang yang sama dan kepribadian yang sama” Ujar Asya menutupi rasa gugup dan malunya.
Ika yang sejak tadi memandanginya begitu penasaran dan berusaha mencari ide agar dapat mengetahui suatu hal yang tengah disembunyikan murobbinya. “Kak Asya, nanti malam boleh tidak aku menginap dirumahmu. Aku ingin menceritakan sesuatu padamu, yaa mungkin terlihat aneh tapi aku ingin sekali bercerita padamu. Oke sehabis maghrib, aku akan datang. Assalamu’alaikum” Ika dengan berlarian kecil meninggalkan Asya yang sejak tadi terangah dengan perkataannya yang begitu cepat.
“Wa’alaikumsalam”, Asya sontak tersadar dari lamunannya dan bergegas menuju gedung ruangannya.
Sepulang kuliah, Asya kembali menyibukkan diri untuk berkumpul pada teman – teman seperjuangannya. Mereka tengah asik merancang program yang telah direncanakan. Berkumpul di sebuah lapangan rektorat yang begitu hijau dengan kesejukan, membuatnya asik menulis progja yang sudah di diskusikan. Keheningan terpecahkan saat seruan takbir terdengar lantang menyambut salah seorang ikhwan yang akan membina dan mengarahkan mereka dalam merancang dan melaksanakan program ini. Sejenak ia menghentikan pekerjaannya, dan mengangkat kepala dan “Astaghfirullah hal’adzim bukankah ia sosok yang berjumpa dengan ku kemarin, siapakah dia? dan mengapa dia berada disini.” Pertanyaan muncul begitu berkepanjangan di fikirannya, seolah – olah menari dengan irama sendu, ia menatap begitu cepat dan berpaling seolah tak terjadi apa – apa, karena ia tak ingin rekan - rekan yang berada disekelilingnya terlihat heran kala memandangnya.
“Assala’mualaikum Warohmatullahi Wabarokatu, perkenalkan ana bernama Arsyad dari jurusan Ilmu Komunikasi. Disini ana sebagai ketua pelaksana dalam agenda yang tengah kita rencanakan ini. Apakah tadi sudah di diskusikan masukan dari ana akhi?” Ia bertanya pada seorang ikhwan disampingnya. “Alhamdulillah sudah akhi” terdengar sahutan menjawab pertanyaannya.
Asya yang sejak tadi terdiam membelenggu, merasa heran dengan hatinya. Ia bergegas menyelesaikan pekerjaannya dan menyimak pemaparan dari ketua pelaksana tersebut. Setelah selesai Asya dengan segera berpamitan pulang. Rekannya menatap heran, karena tidak seperti biasanya dia terlihat seperti itu dan terburu – buru untuk pulang.
Tengah asik dengan kesendirian, ia berjalan dengan langkah yang begitu cepat. Tin tin, terdengar suara motor menghampirinya. Saat berbalik ia terlihat mundur teratur. Begitu terkejut ketika sosok itu membuka helmnya, “Arsyad” gumamnya.
“Assalamu’alaikum ukhti, boleh ana bertanya sesuatu?”
“Wa.. Wa’alaikumsalam akhi, ia boleh?” tuturnya terbata – bata dan kian merunduk.
“Apakah benar ukhti bernama Asya? seorang murobbi yang sering diceritakan oleh adik ana, dia begitu sangat senang dan gembira memiliki murobbi seperti antum. Oya, Kemarin kita sempat berpapasan diwarung sana bukan? Ana masih ingat, dan ada sebuah titipan dari ana, semoga ini menjadi langkah yang tepat dan dengan keridhoan Illahi”
Lelaki itu tersenyum dan memberikan secarik kertas dengan penuh harapan terlihat di wajahnya. Asya yang hanya mengangguk dan menerima surat tersebut segera mengambil dan berpamitan pulang. Ini merupakan pertemuan kedua bagi Asya. Dengan langkah semakin cepat ia melaju dengan hati yang tak sabar untuk membaca surat tersebut. Sesampainya dirumah ia bergegas mempersiapkan diri untuk bermuhasabah kepada Sang Khalik dengan seruan magribnya.
Magrib pun telah dilaksanakan. Seperti biasa Asya bertilawah sebelum membuka buku mata kuliahnya. Setelah itu, ia menghubungi Ika yang tadi berniat untuk menginap dirumahnya.
“Assalamu’alaiku, dik kamu sudah dimana?”
“Wa’alaikumsalam. Afwan kak, ana tidak jadi menginap, ana berharap kakak membaca secarik kertas yang sudah diberikan oleh kakak ana”.
“Surat?, hah iya surat pemberian Arsyad. Lalu apa hubungannya dengan Ika? Apa jangan – jangan Ika adalah… ah sebaiknya ana abaca dulu suratnya.”
“Assal’mualaikum untukmu wahai hati yang ku ketuk. Aku mencoba menyampaikan pesan ini melalui perkataan hati yang tak lepas dari Tanya yang selalu menggangguku. Maaf jika pesanku terlihat lancang, namun ana sudah sejak lama memperhatikanmu, dan juga mendapatkan informasi selalu dari adik ana, Ika. Dengan kesungguhan hati ana ingin meminangmu dengan kado istimewa yang telah ana titipkan kepada Ibumu. Maaf jika ana telah datang dan tanpa seizinmu. Namun sudikah kiranya kau menuruni tangga kamarmu dan bergabunglah bersama keluarga ini?”
Asya terdiam dan memikirkan isi surat itu, dan membaca pesan terahir dalam kutipan itu. Dengan segera ia menuruni tangga beserta mukenah yang belum ia lepaskan. Ia berlarian dengan kepalan surat miliknya dan pemberian dari Arsyad. Sesampainya di ruang tamu, “Bunda? Ika, kamu sudah ada disini, kenapa tidak keatas dik? Lalu ia menengok disebelah kiri terlihat Arsyad dan kedua orang tuanya dengan Al- Quran di tangannya. Arsya terdiam berdiri terpaku dalam kebingungan.
“Anak ku, kami baru saja menerima Arsyad sebagai pendampingmu. Bunda berharap kamu dapat menerimanya. Al-Quran itu adalah kalam Illahi yang telah ia khatamkan baru saja, sebagai mas kawin untukmu. Apakah kau suka” ujar ibunda Arsya.
“Bunda, inilah kata hatiku.” Dengan lembut ia membaca surat yang telah ditulisnya, Wahai kau adam, jika Allah mengizinkan, aku ingin menjadi mahrom mu, pinanglah aku dengan Al-Quran. Aku ingin kau persembahkan itu untuk kedua orang tuaku, dan bersahaja melamarku dengan ketenangan hatimu.”
Semua yang ada bersyukur dan berbahagia. Ternyata cinta memang begitu indah dan sempurna. Allah pasti akan menyatukan insan yang menghamba dan memohon kepadanya. Kisah Asya dan Arsyad yang menyatu karena doa dan harapan yang selalu mereka panjatkan. Alhamdulillah, kini mereka telah merencanakan pernikahan mereka yang akan berlangsung seminggu setelah proses melamar. (end)

No comments:

Post a Comment