Politik    Sosial    Budaya    Ekonomi    Wisata    Hiburan    Sepakbola    Kuliner    Film   
Home » » SATU HARI UNTUK IBU

SATU HARI UNTUK IBU

Posted by Kumpulan Puisi dan Cerpen Tiara on Sunday, 5 April 2015


Langit berselimut gumpalan awan kelabu. Udara dingin seakan menembus kulitku hingga menusuk kedalam tulang. Daun-daun masih basah, bergoyang ditiup angin. Ku hirup aroma sisa hujan semalam sambil menatap sosoknya.

Seperti kemarin-kemarin, setiap kali aku datang dia selalu duduk disini, di atas tempat tidurku, menghadap ke jendela usang menembus indah pemandangan luar. Memeluk erat kakinya dengan dagu bertopang di lutut. Matanya yang sesekali berkedip tak lepas dari bunga bermekaran yang bergoyang mengikuti arah angin, sementara bibirnya hanya terkatup rapat.

Dia selalu seperti itu setiap kali aku pulang, berdiam lama dalam posisi yang sama, tak bergerak sedikitpun. Terkadang aku memandanginya lekat-lekat, memastikan kalau ia tak berubah menjadi patung. Dan, aku akan merasa lega karena masih bisa melihat gerakan punggungnya yang samar naik turun. Meski aku tak terlalu suka berdiam lama dalam udara yang dingin, tidak pernah ada niat dan keinginanku sedikit pun untuk meninggalkannya.

Ya, inilah Ibuku, seorang gadis tua idaman yang menyimpan banyak cerita tentang kehidupan. Dia telah memberi dan mengajariku banyak hal. Dan, selalu mengatakan bahwa aku adalah matahari dalam kehidupannya, bagiku itu merupakan sesuatu yang sangat luar biasa. Mungkin tak banyak anak seberuntung diriku. Maka, ketika aku tak bisa memberi lebih dari yang ia berikan, aku hanya bisa memberi senyuman dan semangat dalam kehidupan. Aku telah berjanji kepada diriku sendiri, akan terus berusaha bersungguh-sungguh dalam mewujudkan impian ibu terhadap diriku, hingga kakiku tak sanggup untuk melangkah lagi.[]

Namaku Tiara. Entah sudah berapa lama aku merenung sambil menatap layar laptop yang gelap. Hanya pantulan bayangan wajahku saja yang terlihat. Ku perhatikan wajah itu, terlihat jelas sudah nampak berubah dahi ini, pipi ini, dan tubuh ini. Inikah aku? Ternyata aku bukan lagi gadis mungil yang selalu mencari perhatian ibu. Mungkin sudah saatnya aku memulai aktivitas baru layaknya seorang gadis remaja yang lebih sering memperhatikan ibu.

Ya, ibuku, gadis cantik idamanku dulu saat aku berumur mungil hingga 18 tahun. Sekarang ia nampak tua, wajahnya telah banyak mengalami perubahan. Mulai dari memandang pipinya, dahinya, dan kerutan-kerutan yang ada di pelipis matanya. Oh ibuku, inikah gadisku.. (Aku menatapnya dalam-dalam hingga ibu mengejutkan ku).

“Anak ku, apa yang sedang kau lihat pada wajah ibumu ini, apakah ibu nampak murung? atau ibu sangat menawan?”

Ibu mulai membuka topik pembicaraan dengan bergurau kepadaku. Sedangkan aku, tetap saja termanggu menatapnya hingga dalam, tak terasa aliran air mulai membasahi pipiku melalui mata ini, mata yang tetap tertahan memperhatikannya. Memandanginya adalah sebuah penghargaan terbesar untuk ku. Semenjak aku menginjak dunia kampus, terasa sangat sulit sekali untuk menjumpai wanita idamanku. Banyak sekali faktor-faktor yang mempersulit ku untuk menjumpainya, terutama masalah biaya. Ya, biaya untuk pulang ke kampung halaman tidaklah murah, butuh pengorbanan yang sulit untuk menjangkaunya. Maka, tak akan ku sia-siakan kepulanganku selama ini, khususnya hari itu. Hari dimana aku bisa memandanginya dalam-dalam, memeluknya dengan erat, dan menghabiskan waktu senggang untuk berbincang-bincang.

“Ita?” Ibu menepuk pundak ku. (Ita adalah panggilan ibu untuk ku, Ia mengutip kalimat terahir dari nama ku Tiara Novita).

“Iya bu?” Aku terkejut dan langsung menghapus air mata ku. “Ah Ibu... Bu, hari ini sibuk tidak? Jika tidak, mau kah ibu berjalan-jalan denganku? Aku sangat merindukan suasana kampungku ini huaah..”

“Tidak nak, hari ini ibu tidak ada yang menyibukkan, mungkin dirimu hehehe.. Tuh mengajak ibu jalan-jalan, tentu saja ibu sangat setuju”

“Hah, ahirnya bisa menghabiskan waktu bersama gadis tua idamanku hehe..” Ahirnya, waktu yang ku nanti-nantikan datang juga. Senang sekali hati ini di hari yang cukup sejuk dengan cuaca yang sayup, menggodaku untuk bergegas cepat. Dengan segera aku beranjak dari tidur dan bersiap-siap untuk mandi.

“Hemh air di Liwa ini memang tak pernah berubah jadi hangat ya hihihi”

Setelah selesai membersihkan tubuh, dengan segera aku mengganti pakaian dan kembali menuju kamar. Dengan senyuman yang terus menebar, aku bisa menghirup udara segar di sekeliling rumahku. Tanah yang kering dan debu yang beterbangan seolah menyapa kedatanganku. Aku merasa gembira dan hidup. Entah sudah berapa lama aku tidak merasakan hal seperti ini. Merasakan darah yang mengalir cepat keseluruh tubuh dan merasakan jantung yang menari brutal di dalam rongga dada.

Jleebb!! Hanya sedetik aku biarkan semua itu terjadi. Segera aku hentikan semuanya, aku hentikan kegembiraan luar biasa yang baru saja aku rasakan. Aku tergopoh melihat ibu ku yang sudah duduk merenung beruraian air mata di tempat yang sama, tempat yang menjadi pavoritnya selama ini, yaa, kamarku dan jendela usang dengan pemandangan indah itu.

Aku melangkah masuk ke dalam kamar dan langsung menyadarkan ibu. Tapi ibu hanya diam. Diam seribu bahasa. Ia tak pernah menjawab ketika aku menyapa dan menyadarkannya dari lamunan itu. Entah apa yang ada dalam fikirannya. Sungguh ingin sekali aku menjadi sandaran kesedihannya, dan ingin menjadi tempat berbagi kesedihannya.

“Ibu, kok masih termenung? Katanya kita mau jalan-jalan, ayo bu aku sudah siap.” Ibu hanya diam dan menghembuskan nafas beratnya. “Ibu, esok aku akan kembali lagi ke Bandar Lampung, tidak kah ibu memberiku kesempatan untuk berdua denganmu?”. Sedikitpun tak ada balasan dari bibir ibu, dia hanya mengangguk lemah. “Bu, apa ibu sedang sakit? kalau begitu kita dirumah saja ya, aku akan membuatkan teh untuk ibu. Tunggu ya”.
Perlahan aku melangkah meninggalkan ibu, dengan kebingungan dan tatapan samar, sungguh aku tak mengerti apa yang sedang ibu fikirkan. “Ita..” Suara itu, ya suara itu. Aku terhenti tepat di depan pintu dan kembali mendekati ibu. “Iya bu”.
Ibu membuka mata, mengangkat kepala dari lututnya, lalu menggeleng beberapa kali. Terdiam seperti itu membuat otot-otot lehernya terasa kaku. Tidur, tertidur atau terbang bersama sketsa-sketsa kenangan masa lalu. Masa lalu yang membuat kedamaian menjadi kesuraman, tentu saja itu menjadi pukulan keras untuk ibu. Mungkin hal itulah yang menjadi dasar lamunannya. Aku hanya bisa menerka-nerka saja melihat dari tingkah lakunya.

“Ita, ada yang ingin ibu bicarakan sebelum kita pergi. Maaf ya nak, ibu selalu diam ketika kau menanyakan apa yang sedang ibu lakukan, apa yang sedang ibu fikirkan. Ibu memikirkan banyak hal nak, yang mungkin kamu masih belum bisa mengerti sepenuhnya.” Ahirnya, ibu mau mengucap kata demi kata di hadapanku, semoga saja dengan keterbukaan ini, bisa mengurangi beban yang ia rasakan.

“Tidak apa-apa ibu, katakanlah. Aku akan mendengarkannya dengan senang hati”.

“Ta, adikmu merindukan ayahmu, begitu juga dengan ibu. Apa kau juga merasakan hal yang sama nak?” Aku hanya terdiam membisu mendengar kalimat itu, ntahlah, aku juga masih belum mengerti apa isi hatiku sebenarnya. Aku terlalu malas untuk memikirkan hal-hal yang berkaitan dengan ayah. Kekecewaan ini masih sangat dalam.

“Ta, ayahmu akan pulang. Ibu akan sangat senang jika kamu mendukung ibu untuk bisa menerima ayahmu kembali nak.” Ibu menangis terisak-isak. Tangisannya memecah kesunyian yang kurasakan, aroma sejuk dan semburan angin terasa hilang dalam sekejap. “Ta, ibu sangat berharap kamu bisa seperti dahulu, disaat kamu berkeluh kesah dengan ayahmu. Tidak dengan seperti ini nak.  Ibu sangat sedih melihatmu membenci ayahmu. Sejujurnya ibu lebih merasa sakit dari apa yang kamu rasakan nak, tapi ibu tak mau fikiran jahat itu menghancurkan rumah tangga ini. Ibu mencintaimu nak, ibu juga mencintai ayahmu. Apapun yang telah ia lakukan padamu, pada ibu, ikhlaskan ya”.

Aku tetap membisu dan tetap terpaku pada dinding tua kamarku. Aku merasa ada ledakan dahsyat yang ingin keluar dari tubuhku. “Aku harus bisa menetralisir rasa kesal dan cinta ini ya Allah, jangan biarkan amukan ini menggebu-gebu. Buatlah aku seperti inginnya ibu”. Perlahan ku tarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Kemudian ku dekati ibu yang sejak tadi bercucuran air mata. “Ibu, sejujurnya aku malu, sangat malu. Apa yang akan dikatakan orang lain tentang ayah, tentang keluarga kita? Apa yang akan aku katakan dengan gumpalan-gumpalan pertanyaan yang mereka ajukan? Haruskah aku mengurung diri dikamar ini? Bagaimana caranya bu, tolong ajari aku”. Isak tangis menggelegar keluar dari mataku, aku merintih tak tertahan menahan luka yang selama ini tertanam. Tetapi, aku heran, mengapa ibu secepat iu mengikhlaskan semua kejadian pahit yang menimpanya. Mengapa ibu begitu sabar dan tenang menghadapi semuanya? Sedangkan aku, terus bergulat dengan amarah yang semakin hari semakin tertanam, tumbuh membesar.

Ayah, selama ini ia meninggalkan kami, sudah beberapa tahun ini, bahkan aku melupakan kapan terahir kali ia berdiri disini, dihadapan mata ini. Bagiku, ia sudah tak ada. Mungkin bisa dibilang itu adalah hal yang wajar aku katakan karena, ia tak pernah lagi muncul dan menafkahi keluarga mungil ini. Sungguh rasa kesal ini teramat dalam kuberikan padanya.

“Ita, jika orang menanyakan apa pun tentang ayahmu, jawablah dengan perkataan yang baik tentangnya. Nak tidak kah kau lupa, bahwa ia adalah ayahmu, tanpa dirinya kau tak akan pernah terlahir di dunia ini. Ikhlaskan nak, Allah telah mengembalikan ia untuk kita. Bukankah sepatutnya kita mensyukuri ini?”

“Ya bu, akan aku lakukan dengan kerendahan hati dan karena Sang Pencipta. Tetapi biarkanlah aku memikirkannya sejenak bu”. Ku sandarkan kepalaku pada dinding yang berdebu. Melihat kaca tua yang usang itu, aku memikirkan apa yang seharusnya terfikirkan selama ini. Bagaimana mungkin aku membencinya, sedangkan istri yang sangat terluka pun bisa memaafkan dan menerimanya. Mengapa aku yang hanya sebagai anak tidak bisa melakukannya. Sesungguhnya, akulah sosok yang paling kejam selama ini. Tak terlihat namun nampak jelas. “Ibu, maafkanlah aku yang mengabaikan semua ini, aku terlalu asik dengan kegemaranku, sehingga tak mengerti hatimu. Aku mencintaimu bu, sejujurnya aku sangat mencintai dan merindukan ayah. Selama ini ayah selalu aku fikirkan, tapi rasa kesal ini selalu saja menutupinya”.
“Ibu sangat senang nak” (Ibu mencium keningku). Oya, ayo kita jalan-jalan, temani ibu ke pasar ya sebelum tutup nih pasarnya, sudah pukul 10.00 WIB, tidak teras ya. Ibu akan membuat makanan dan sayuran kesukaanmu sebelum kau kembali”

“Baiklah bu”.

Kami pun beranjak pergi. Sesampainya di pasar ibu langsung mengajak ku menuju tempat penjualan sayur mayur. Dari sekian banyak yang ia tunjuk, aku memilih Tuba dan Pakis. Aku sangat hobi santan tuba, santan daun singkong dan sambal pakis. Usai belanja kami beranjak pulang. Sesampainya di rumah, ibu langsung mengambil air wudhu untuk sholat dzuhur bergantian dengan ku. Setelah sholat segera menuju dapur, aku pun mengikutinya. Ia memasak dengan semangatnya, “heemmm senangnya” gumamku dalam hati.

Aroma harum masakan yang baru saja matang segera tercium. Piring-piring dengan berbagai macam lauk berjajar rapi di atas tumpukan mangkuk dan piring, Khas masakan Lampung. Tidak ada yang salah pada masakan ibu sore ini. Semua khas masakan Lampung dengan bumbu yang kuat dan rasa yang menggoyang lidah. Makan malam terasa nikmat dengan masakan lezat ibu yang sangat ku rindukan. Maklum saja, selama aku di Bandar Lampung, aku mengkonsumsi banyak sayuran wartel dan kentang. Hanya berputar pada keduanya hehe..

Setelah selesai makan, kami masih menghabiskan waktu dengan bercanda bersama kedua adik mungilku yang lucu dan nakal ini. Tak henti-henti suara tawa memecah kesunyian malam hingga kami terlelap bersama.

Tibalah hari dimana aku harus kembali ke Bandar Lampung lagi, aku harus menyelesaikan studi ku disana. Kami pun berpisah kembali. Sangat berat rasanya untuk pergi. Aku yang hanya pulang setahun satu sampai dua kali ini, merasa tak puas hanya bertemu sekejap saja. Aku meninggalkan mereka, menjauh dan semakin tak terlihat dari kaca mobil yang ku tumpangi ini. Tunggu aku kembali lagi bu, aku sangat menyayanngi kalian. --#--

Namaku Tiara novita. Saat ini aku sudah menggenggam status sebagai mahasiswa di Universitas Lampung. Tempat kelahiranku Negeri Agung pekon Way Empulau Ulu Kecamatan Balik Bukit Lampung Barat. Alamat tempat tinggalku saat ini di Jl. Bumi Manti II Lk. 1 Kampung Baru Kab. Bandar Lampung.

SHARE :
CB Blogger
 
Copyright © 2014 Kumpulan Puisi dan Cerpen Tiara. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Template by Creating Website and CB Blogger