Langit
berselimut gumpalan awan kelabu. Udara dingin seakan menembus kulitku
hingga menusuk kedalam tulang. Daun-daun masih basah, bergoyang ditiup
angin. Ku hirup aroma sisa hujan semalam sambil menatap sosoknya.
Seperti
kemarin-kemarin, setiap kali aku datang dia selalu duduk disini, di
atas tempat tidurku, menghadap ke jendela usang menembus indah
pemandangan luar. Memeluk erat kakinya dengan dagu bertopang di lutut.
Matanya yang sesekali berkedip tak lepas dari bunga bermekaran yang
bergoyang mengikuti arah angin, sementara bibirnya hanya terkatup rapat.
Dia
selalu seperti itu setiap kali aku pulang, berdiam lama dalam posisi
yang sama, tak bergerak sedikitpun. Terkadang aku memandanginya
lekat-lekat, memastikan kalau ia tak berubah menjadi patung. Dan, aku
akan merasa lega karena masih bisa melihat gerakan punggungnya yang
samar naik turun. Meski aku tak terlalu suka berdiam lama dalam udara
yang dingin, tidak pernah ada niat dan keinginanku sedikit pun untuk
meninggalkannya.
Ya, inilah Ibuku, seorang gadis tua
idaman yang menyimpan banyak cerita tentang kehidupan. Dia telah memberi
dan mengajariku banyak hal. Dan, selalu mengatakan bahwa aku adalah
matahari dalam kehidupannya, bagiku itu merupakan sesuatu yang sangat
luar biasa. Mungkin tak banyak anak seberuntung diriku. Maka, ketika aku
tak bisa memberi lebih dari yang ia berikan, aku hanya bisa memberi
senyuman dan semangat dalam kehidupan. Aku telah berjanji kepada diriku
sendiri, akan terus berusaha bersungguh-sungguh dalam mewujudkan impian
ibu terhadap diriku, hingga kakiku tak sanggup untuk melangkah lagi.[]
Namaku
Tiara. Entah sudah berapa lama aku merenung sambil menatap layar laptop
yang gelap. Hanya pantulan bayangan wajahku saja yang terlihat. Ku
perhatikan wajah itu, terlihat jelas sudah nampak berubah dahi ini, pipi
ini, dan tubuh ini. Inikah aku? Ternyata aku bukan lagi gadis mungil
yang selalu mencari perhatian ibu. Mungkin sudah saatnya aku memulai
aktivitas baru layaknya seorang gadis remaja yang lebih sering
memperhatikan ibu.
Ya, ibuku, gadis cantik idamanku dulu
saat aku berumur mungil hingga 18 tahun. Sekarang ia nampak tua,
wajahnya telah banyak mengalami perubahan. Mulai dari memandang pipinya,
dahinya, dan kerutan-kerutan yang ada di pelipis matanya. Oh ibuku,
inikah gadisku.. (Aku menatapnya dalam-dalam hingga ibu mengejutkan ku).
“Anak ku, apa yang sedang kau lihat pada wajah ibumu ini, apakah ibu nampak murung? atau ibu sangat menawan?”
Ibu
mulai membuka topik pembicaraan dengan bergurau kepadaku. Sedangkan
aku, tetap saja termanggu menatapnya hingga dalam, tak terasa aliran air
mulai membasahi pipiku melalui mata ini, mata yang tetap tertahan
memperhatikannya. Memandanginya adalah sebuah penghargaan terbesar untuk
ku. Semenjak aku menginjak dunia kampus, terasa sangat sulit sekali
untuk menjumpai wanita idamanku. Banyak sekali faktor-faktor yang
mempersulit ku untuk menjumpainya, terutama masalah biaya. Ya, biaya
untuk pulang ke kampung halaman tidaklah murah, butuh pengorbanan yang
sulit untuk menjangkaunya. Maka, tak akan ku sia-siakan kepulanganku
selama ini, khususnya hari itu. Hari dimana aku bisa memandanginya
dalam-dalam, memeluknya dengan erat, dan menghabiskan waktu senggang
untuk berbincang-bincang.
“Ita?” Ibu menepuk pundak ku. (Ita adalah panggilan ibu untuk ku, Ia mengutip kalimat terahir dari nama ku Tiara Novita).
“Iya
bu?” Aku terkejut dan langsung menghapus air mata ku. “Ah Ibu... Bu,
hari ini sibuk tidak? Jika tidak, mau kah ibu berjalan-jalan denganku?
Aku sangat merindukan suasana kampungku ini huaah..”
“Tidak
nak, hari ini ibu tidak ada yang menyibukkan, mungkin dirimu hehehe..
Tuh mengajak ibu jalan-jalan, tentu saja ibu sangat setuju”
“Hah,
ahirnya bisa menghabiskan waktu bersama gadis tua idamanku hehe..”
Ahirnya, waktu yang ku nanti-nantikan datang juga. Senang sekali hati
ini di hari yang cukup sejuk dengan cuaca yang sayup, menggodaku untuk
bergegas cepat. Dengan segera aku beranjak dari tidur dan bersiap-siap
untuk mandi.
“Hemh air di Liwa ini memang tak pernah berubah jadi hangat ya hihihi”
Setelah
selesai membersihkan tubuh, dengan segera aku mengganti pakaian dan
kembali menuju kamar. Dengan senyuman yang terus menebar, aku bisa
menghirup udara segar di sekeliling rumahku. Tanah yang kering dan debu
yang beterbangan seolah menyapa kedatanganku. Aku merasa gembira dan
hidup. Entah sudah berapa lama aku tidak merasakan hal seperti ini.
Merasakan darah yang mengalir cepat keseluruh tubuh dan merasakan
jantung yang menari brutal di dalam rongga dada.
Jleebb!!
Hanya sedetik aku biarkan semua itu terjadi. Segera aku hentikan
semuanya, aku hentikan kegembiraan luar biasa yang baru saja aku
rasakan. Aku tergopoh melihat ibu ku yang sudah duduk merenung beruraian
air mata di tempat yang sama, tempat yang menjadi pavoritnya selama
ini, yaa, kamarku dan jendela usang dengan pemandangan indah itu.
Aku
melangkah masuk ke dalam kamar dan langsung menyadarkan ibu. Tapi ibu
hanya diam. Diam seribu bahasa. Ia tak pernah menjawab ketika aku
menyapa dan menyadarkannya dari lamunan itu. Entah apa yang ada dalam
fikirannya. Sungguh ingin sekali aku menjadi sandaran kesedihannya, dan
ingin menjadi tempat berbagi kesedihannya.
“Ibu, kok masih
termenung? Katanya kita mau jalan-jalan, ayo bu aku sudah siap.” Ibu
hanya diam dan menghembuskan nafas beratnya. “Ibu, esok aku akan kembali
lagi ke Bandar Lampung, tidak kah ibu memberiku kesempatan untuk berdua
denganmu?”. Sedikitpun tak ada balasan dari bibir ibu, dia hanya
mengangguk lemah. “Bu, apa ibu sedang sakit? kalau begitu kita dirumah
saja ya, aku akan membuatkan teh untuk ibu. Tunggu ya”.
Perlahan
aku melangkah meninggalkan ibu, dengan kebingungan dan tatapan samar,
sungguh aku tak mengerti apa yang sedang ibu fikirkan. “Ita..” Suara
itu, ya suara itu. Aku terhenti tepat di depan pintu dan kembali
mendekati ibu. “Iya bu”.
Ibu membuka mata, mengangkat kepala dari
lututnya, lalu menggeleng beberapa kali. Terdiam seperti itu membuat
otot-otot lehernya terasa kaku. Tidur, tertidur atau terbang bersama
sketsa-sketsa kenangan masa lalu. Masa lalu yang membuat kedamaian
menjadi kesuraman, tentu saja itu menjadi pukulan keras untuk ibu.
Mungkin hal itulah yang menjadi dasar lamunannya. Aku hanya bisa
menerka-nerka saja melihat dari tingkah lakunya.
“Ita, ada
yang ingin ibu bicarakan sebelum kita pergi. Maaf ya nak, ibu selalu
diam ketika kau menanyakan apa yang sedang ibu lakukan, apa yang sedang
ibu fikirkan. Ibu memikirkan banyak hal nak, yang mungkin kamu masih
belum bisa mengerti sepenuhnya.” Ahirnya, ibu mau mengucap kata demi
kata di hadapanku, semoga saja dengan keterbukaan ini, bisa mengurangi
beban yang ia rasakan.
“Tidak apa-apa ibu, katakanlah. Aku akan mendengarkannya dengan senang hati”.
“Ta,
adikmu merindukan ayahmu, begitu juga dengan ibu. Apa kau juga
merasakan hal yang sama nak?” Aku hanya terdiam membisu mendengar
kalimat itu, ntahlah, aku juga masih belum mengerti apa isi hatiku
sebenarnya. Aku terlalu malas untuk memikirkan hal-hal yang berkaitan
dengan ayah. Kekecewaan ini masih sangat dalam.
“Ta,
ayahmu akan pulang. Ibu akan sangat senang jika kamu mendukung ibu untuk
bisa menerima ayahmu kembali nak.” Ibu menangis terisak-isak.
Tangisannya memecah kesunyian yang kurasakan, aroma sejuk dan semburan
angin terasa hilang dalam sekejap. “Ta, ibu sangat berharap kamu bisa
seperti dahulu, disaat kamu berkeluh kesah dengan ayahmu. Tidak dengan
seperti ini nak. Ibu sangat sedih melihatmu membenci ayahmu. Sejujurnya
ibu lebih merasa sakit dari apa yang kamu rasakan nak, tapi ibu tak mau
fikiran jahat itu menghancurkan rumah tangga ini. Ibu mencintaimu nak,
ibu juga mencintai ayahmu. Apapun yang telah ia lakukan padamu, pada
ibu, ikhlaskan ya”.
Aku tetap membisu dan tetap terpaku
pada dinding tua kamarku. Aku merasa ada ledakan dahsyat yang ingin
keluar dari tubuhku. “Aku harus bisa menetralisir rasa kesal dan cinta
ini ya Allah, jangan biarkan amukan ini menggebu-gebu. Buatlah aku
seperti inginnya ibu”. Perlahan ku tarik nafas dalam-dalam dan
menghembuskannya. Kemudian ku dekati ibu yang sejak tadi bercucuran air
mata. “Ibu, sejujurnya aku malu, sangat malu. Apa yang akan dikatakan
orang lain tentang ayah, tentang keluarga kita? Apa yang akan aku
katakan dengan gumpalan-gumpalan pertanyaan yang mereka ajukan? Haruskah
aku mengurung diri dikamar ini? Bagaimana caranya bu, tolong ajari
aku”. Isak tangis menggelegar keluar dari mataku, aku merintih tak
tertahan menahan luka yang selama ini tertanam. Tetapi, aku heran,
mengapa ibu secepat iu mengikhlaskan semua kejadian pahit yang
menimpanya. Mengapa ibu begitu sabar dan tenang menghadapi semuanya?
Sedangkan aku, terus bergulat dengan amarah yang semakin hari semakin
tertanam, tumbuh membesar.
Ayah, selama ini ia
meninggalkan kami, sudah beberapa tahun ini, bahkan aku melupakan kapan
terahir kali ia berdiri disini, dihadapan mata ini. Bagiku, ia sudah tak
ada. Mungkin bisa dibilang itu adalah hal yang wajar aku katakan
karena, ia tak pernah lagi muncul dan menafkahi keluarga mungil ini.
Sungguh rasa kesal ini teramat dalam kuberikan padanya.
“Ita,
jika orang menanyakan apa pun tentang ayahmu, jawablah dengan perkataan
yang baik tentangnya. Nak tidak kah kau lupa, bahwa ia adalah ayahmu,
tanpa dirinya kau tak akan pernah terlahir di dunia ini. Ikhlaskan nak,
Allah telah mengembalikan ia untuk kita. Bukankah sepatutnya kita
mensyukuri ini?”
“Ya bu, akan aku lakukan dengan
kerendahan hati dan karena Sang Pencipta. Tetapi biarkanlah aku
memikirkannya sejenak bu”. Ku sandarkan kepalaku pada dinding yang
berdebu. Melihat kaca tua yang usang itu, aku memikirkan apa yang
seharusnya terfikirkan selama ini. Bagaimana mungkin aku membencinya,
sedangkan istri yang sangat terluka pun bisa memaafkan dan menerimanya.
Mengapa aku yang hanya sebagai anak tidak bisa melakukannya.
Sesungguhnya, akulah sosok yang paling kejam selama ini. Tak terlihat
namun nampak jelas. “Ibu, maafkanlah aku yang mengabaikan semua ini, aku
terlalu asik dengan kegemaranku, sehingga tak mengerti hatimu. Aku
mencintaimu bu, sejujurnya aku sangat mencintai dan merindukan ayah.
Selama ini ayah selalu aku fikirkan, tapi rasa kesal ini selalu saja
menutupinya”.
“Ibu sangat senang nak” (Ibu mencium keningku). Oya,
ayo kita jalan-jalan, temani ibu ke pasar ya sebelum tutup nih
pasarnya, sudah pukul 10.00 WIB, tidak teras ya. Ibu akan membuat
makanan dan sayuran kesukaanmu sebelum kau kembali”
“Baiklah bu”.
Kami
pun beranjak pergi. Sesampainya di pasar ibu langsung mengajak ku
menuju tempat penjualan sayur mayur. Dari sekian banyak yang ia tunjuk,
aku memilih Tuba dan Pakis. Aku sangat hobi santan tuba, santan daun
singkong dan sambal pakis. Usai belanja kami beranjak pulang.
Sesampainya di rumah, ibu langsung mengambil air wudhu untuk sholat
dzuhur bergantian dengan ku. Setelah sholat segera menuju dapur, aku pun
mengikutinya. Ia memasak dengan semangatnya, “heemmm senangnya” gumamku
dalam hati.
Aroma harum masakan yang baru saja matang
segera tercium. Piring-piring dengan berbagai macam lauk berjajar rapi
di atas tumpukan mangkuk dan piring, Khas masakan Lampung. Tidak ada
yang salah pada masakan ibu sore ini. Semua khas masakan Lampung dengan
bumbu yang kuat dan rasa yang menggoyang lidah. Makan malam terasa
nikmat dengan masakan lezat ibu yang sangat ku rindukan. Maklum saja,
selama aku di Bandar Lampung, aku mengkonsumsi banyak sayuran wartel dan
kentang. Hanya berputar pada keduanya hehe..
Setelah
selesai makan, kami masih menghabiskan waktu dengan bercanda bersama
kedua adik mungilku yang lucu dan nakal ini. Tak henti-henti suara tawa
memecah kesunyian malam hingga kami terlelap bersama.
Tibalah
hari dimana aku harus kembali ke Bandar Lampung lagi, aku harus
menyelesaikan studi ku disana. Kami pun berpisah kembali. Sangat berat
rasanya untuk pergi. Aku yang hanya pulang setahun satu sampai dua kali
ini, merasa tak puas hanya bertemu sekejap saja. Aku meninggalkan
mereka, menjauh dan semakin tak terlihat dari kaca mobil yang ku
tumpangi ini. Tunggu aku kembali lagi bu, aku sangat menyayanngi kalian.
--#--
Namaku Tiara novita. Saat ini aku sudah menggenggam
status sebagai mahasiswa di Universitas Lampung. Tempat kelahiranku
Negeri Agung pekon Way Empulau Ulu Kecamatan Balik Bukit Lampung Barat.
Alamat tempat tinggalku saat ini di Jl. Bumi Manti II Lk. 1 Kampung Baru
Kab. Bandar Lampung.
