Sejuknya embun di pegunungan menyapa diri yang tengah asik bercerita di tengah keluarga sederhana dalam bahtera cinta yang istimewa. Kemewahan memang tak ada namun cinta melebihi kekayaan yang tengah dinikmati kaum lainnya. Harta tak menjadi tumpuan hidup kala itu, saat diri berada dalam lingkup alam yang luar biasa keindahannya. Sungguh suatu kehidupan yang luar biasa harmonisnya, meski hanya berdiam dalam kesepian rumah, namun cinta tak menyurutkan segala rasa. Itu adalah kehidupan keluarga kecil pada masa yang silam.
Keluarga mungil yang sederhana memiliki keturunan yang bernama Tiara Novita. Panggil saja Tia. Berasal asli dari Lampung dan lahir di tanah kelahiran penuh kesejukan dengan gunung yang menjulang tepatnya di Lampung Barat. Kisah yang bermula pada kecintaan rumah tangga yang harmonis, berbuah kebahagiaan yang takkan tergantikan.
Sejak Tia berumur merah, Tia sudah menapaki kehidupan yang sangat sulit untuk menikmati sesuap nasi. Hidup sederhana dengan lingkungan yang sepi tak menghalau kasih sayang orang tua meski dalam kesusahan. Sandang pangan yang selayaknya dimakan kala itu, hanyalah berbentuk jagung dan talas. Itulah santapan yang paling istimewa sepanjang harinya. Rumah yang beratapkan kayu, dinding pun beratapkan kayu, sangat sempit dan sangat dingin. Manakala lantai hanya beralaskan tanah.
Umur Tia pun bertambah, Tia tetap menjadi gadis mungil kesayangan ayah dan ibu. Satu – satunya tempat Tia berbagi canda dan tawa. Keseharian pun berubah, yang tadinya hanya berdiam dirumah kini berganti mengikuti jejak orang tua dalam bekerja di perkebunan kopi. Pagi – pagi sekali kami menghabiskan sarapan mungil yang tengah di hidangkan, selanjutnya kami mengambil peralatan masing – masing. Jika ayah dan ibu membawa kinjar, aku hanya di perbolehkan membawa ember kecil disertai karung putih. Kami pun berangkat bersama – sama di iringi dengan nyanyian sendu yang dilantunkan oleh ayah dan ibu. Tia berlari dan menari kegirangan mendengar nyanyian romantis mereka. Sesampainya di kebun tempat tujuan, kami dengan segera mengambil posisi masing – masing. Tia ikut memetik buah kopi yang kemerah – merahan diiringi oleh suara radio yang memecah kesunyian dalam perkebunan. Irama musik bertalu riang dan burung menari – nari di atas awan penuh kegirangan, menambah keindahan hati dalam sunyinya diri. Jujur saja Tia sangat jarang sekali bermain. Di perkebunan tempat Tia tinggal, hanya ada lima rumah yang saling berjauhan. Hanya pohon kopilah yang paling setia menemani Tia bermain dan bersenda gurau. Bermain dengan anak – anak di lingkungan, itu hanya beberapa kali dalam sebulan. Ketika istirahat memanjang, maka Tia akan bermain bersama mereka.
Siang pun datang. Dinginnya hawa pegunungan kini menghilang. Terdengar adzan dari kejauhan yang bersahutan member isyarat bahwa kerja ini harus ditunda sejenak untuk bersujud dan bersantap siang. Kami beribadah bersama di tengah perkebunan, mengambil wudhu dengan air yang ada di sungai dekat perkebunan. Yaa, sungai itulah sumber air segala air dari semua kebutuhan Tia. Seusai Shalat, santap siang pun dihidangkan. Talas yang banyak dan air minum yang cukup untuk meredakan kehausan yang sangat serat dirasakan. Ibu membuka percakapan dengan nyanyian Lampung yang biasa iya dendangkan. Tia lupa berjudul apa tapi masih ingat sedikit liriknya, kalau tidak salah seperti ini “ Mak baghih kimak jambu, kayu di baturaja, Mak baghih kimak niku, Sai ngehadang dunia “. Tia asal Lampung dan sangat mendominan sekali bahasa Lampung itu, karena jarang sekali bercakap pada suku lain. Mendengar nyanyian itu ayah tersenyum sayu kegirangan. “Bisa saja ibu mu ini ya dalam memulai percakapan”. Tia pun tersenyum senang. Setelah menyantap makanan siang, kami melanjutkan pekerjaan kami memeti kopi.
Tak terasa sore kini menyapa, burung – burung mulai berlarian menuju hinggapannya masing – masing. Suara mereka yang indah, mungkin tengah berbincang menyaksikan Tia berjalan sambil menari mengikuti nyanyian Lampung di radio Mahameru FM serta ibu yang mengikutinya. Terasa hidup sangat bahagia penuh cinta. Sesampainya di rumah Tia segera berganti pakaian karena memang sebelumnya sudah mandi di air sungai perkebunan. Ibu pun segera ke dapur untuk merebus jagung pemberian tetangga dan ayah mengambil air ke sungai. Tia yang memang masih berumur 5 tahun saat itu, belum bisa membaca dan menulis. Tia hanya bisa mendengarkan suara – suara yang menyeruak saat itu. Karena ibu sangat sering bercerita mengenai sekolah, dimana ibu memang saat itu tengah honor menjadi guru SD di talang seberang, Tia mengambil secarik kertas dan pena di tas ibu. Mengikuti tulisan – tulisan yang ada di kertas – kertas yang menempel di dinding. Meski tak tau arti namun sangat luar biasa jika di ingat saat ini.
Asiknya menulis, tak menyadari bahwa ibu tengah memperhatikan Tia dari belakang. Saat Tia berbalik, ibu dengan segera mengejutkan.
“Hayooo, ujar Ibu” ah ibu mengganggu saja. Ibu hanya tersenyum sendu. “Tia sedang menuli apa nak, coba sini ibu lihat” Tia malu untuk menunjukannya, namun Tia sangat yakin bahwa ibu akan menilai yang sangat bagus.
“Waah ini tulisan anak ibu, tulisannya bagus sekali nak. Tia sudah tau belum ini huruf apa?” Ya belum bu, kan ayah dan ibu belum mengajarkan Tia cara membaca dan menulis. Senyum mungil terlintas dari bibir Tia dan ibu sontak membelai rambut Tia yang terurai kusut berantakan belum dirapihkan. Ibu berjalan mencari sisir kemudian merapihkan rambut Tia. “ Tia mau sekolah ya nak?” Tanya ibu pada Tia. mmm iya bu tentu saja Tia mau. Bolehkan bu?. ibu membalas dengan anggukan. Sejak saat itu Tia giat belajar di bantu oleh ayah dan ibu.
Malam pun datang. Tia yang tengah kelelahan setelah bekerja seharian dilanjutkan dengan belajar menulis dan mengeja, terkujur lemah di atas tikar sambil mendengarkan ayah dan ibu bernyanyi dan terlelap. Tia yang masih saja asik mendengarkan radio, tak menyadari bahwa kedua orang tua tengah tertidur pulas. Ahirnya radio pun Tia singkirkan. Kesunyian malam kian terasa gersangnya saat sendirian. Hanya menatap langit – langit atap yang kehitaman ulah asap lampu. Membolak – balikan badan berharap ayah dan ibu bangun mengajak Tia berbincang. Sungguh Tia masih terbawa suasana indahnya belajar dalam sekolah. Tia membayangkan bagaimana rasanya, bangun pagi mengenakan seragam merah putih, menggendong tas, mengenakan dasi dan topi serta sepatu menghiasi kaki. Sungguh menyenangkan bila jadi kenyataan. Indahnya angan kini menidurkan. Terlelap lah sudah bidadari ayah dan ibu saat itu.
Perjalanan hidup yang Tia jalani, selalu berulang seperti itu. Kegitan yang sama tingkah yang sama, hingga umur Tia mencukupi untuk menginjak lantai dan menduduki bangku sekolah SD bersama dengan ibu tercinta. Sedangkan ayah, ia bekerja di kebun merawat kopi. Jika ada orang yang memanggil untuk bekerja paruh waktu, ayah dan ibu menerimanya dengan senang hati. Dengan hasil yang mereka dapatkan, Tia berhasil menjadi sosok penikmat nasi. Nasi yang enak, nasi yang sangat gurih. Ayah dan Ibu terus saja menyuruh Tia untuk menyantap semua itu, dengan tangisan haru kami menyantap bersama. Kebahagiaan pun semakin lengkap, disaat adik yang tengah di tunggu melahirkan setelah sekian lama Tia hanya sendirian. Kebahagian menjadi sangat lengkap, karna kesunyian terkalahkan dengan jeritan bayi mungil terpecahkan.
Inilah kisah 15 tahun silam, kisah yang akan selalu terkenang keindahannya dalam sanubari yang terdalam. Khikmat terasa ketika mengingatnya dan berharap kan berulang kembali, perjalanan hidup yang sederhana menuai kebahagiaan saat dewasa. Kini Tia berumur 20 tahun dan sudah menjadi mahasiswa di PTN Universitas Lampung jurusan Ilmu Administrasi Negara. Dengan semangat membara, meski langkah tersandung akan adanya cobaan hidup yang merenggut semua kebahagiaan silam, Tia hanya membulatkan tekad demi tercapainya tujuan. Sukses dimasa depan, demi kecintaan pada sang ayah dan ibu. Terimakasih yang tak terkira di setiap langkah menuju pengajaran yang menyempurnakan. Kisah silam, kisah harmonis yang terkenang.
Alamat domisili : Jl. Indra Bangsawan No. 68 Bandar Lampung
Email : Tiaranyum@gmail.com
No. Telp. : 085769920125

No comments:
Post a Comment