Empat hari yang lalu adalah terakhir kalinya aku bisa menatap mu dengan kesejukan. Empat hari yang mungkin menjadi peristiwa yang sangat sulit ku terjemahkan melalui kata, tulisan dan juga tangisan. Aku mendera pada kesalahan yang mungkin tak bisa kau maafkan, kesalahan yang merusak dan merubah kenangan manis yang telah kita ciptakan. Kini aku hanya bisa menatap mu dari kejauhan dan hanya dapat mengumbar melalui tulisan, karena di hadapan mu aku hanyalah seorang adik manis yang biasa memanggilmu kakak, lebih tepat kak Rifki.
Hari ini, kamis tepat tanggal dua, aku mencoba menulismu melalui bahasa hati ku. Aku tak mengetahui apa yang hendak ku lakukan kala menatap laptop di hadapan ku. Yang ada di dalam fikiran ku hanyalah untaian-untaian kata yang sangat ingin ku luapkan kepada mu melalui lembaran – lembaran kisah hati ku yang sesungguhnya. Inginnya hati, engkau sudi tuk melihat, membaca, dan membalas lembaran ini dengan kalimat dan untaian kata yang kau mampu. Inginku, kau tulis jua rasa yang dulu pernah ada diantara kita. Tapi rasanya tak mungkin lagi kau daki gunung yang telah kau lewati, tak mungkin lagi kau bersemayam di sungai yang pernah menghanyutkanmu ke jurang yang kalam. Tetapi ke egoisan ku menginginkanmu menulis jua tentang cerita kita, dengan harapan sebagai balasan dan juga ingatan mengenai kenangan yang telah berlalu.
Sayang akankah kau sudi membaca kata perkata dari setiap bait yang telah ku tulis hari ini? Mengingat kejadian empat hari lalu yang telah menjauhkan janji kita tuk selalu bersama. Maaf, kata-kata ku begitu sederhana dan tak bisa menggugah rasa mu tuk turut larut dalam carut marut hatiku. Juga maaf, jika kata maaf tak lagi berarti untuk mu, tak lagi layak untuk di ungkapkan dari diriku yang telah menghancurkan rasa mu. Satu yang selalu ingin ku minta dari mu, jangan hancurkan hubungan silaturahmi yang telah lama terjalin sejak dua tahun yang lalu.
Aku senang dan bangga kepada mu, karena kau tak pernah menunjukkan rasa benci kepada ku sekalipun aku telah merusak indahnya hati mu. Aku menyesal karena aku tak bisa menjadi yang terbaik untuk mu, tak sesuai janji ku dan bahkan menghancurkan rasa yang telah lama kita jalin bersama. Mungkin saat ini kau tengah bahagia, setelah kepergian ku yang selalu menjadi benalu dalam lingkup hidup mu. Maafkan aku karena aku tak pandai menjadi seorang kekasih yang baik bahkan terbaik seperti inginnya hati mu, maafkan aku karena aku tak bisa menjadi sosok wanita yang selalu kau rindu, maaf – maaf kan aku yang selalu menyakiti hati dan perasaan mu. Sungguh semua terjadi memang dasar kesalahan ku namun bukan inginnya hatiku. Cinta hadir begitu cepat, disaat hati ku terlanjur melemah dan sedang dalam kegundahan.
Aku ingat saat itu, hari minggu tepat jam 10.00 WIB aku beranjak dari kost ku menuju rumah mu, berangkat bersama mu yang memang sejak tadi telah lama menunggu ku di depan pintu. Dengan senyum bahagia pagi itu, kau lukis cinta yang dapat ku rasakan dari pipi mu. Senang sangat senang, betapa senyum mu telah menyadarkan ku dari rapuhnya cinta ku yang terlanjur melukai mu. Bisakah aku meminjam mesin waktu? Agar aku dapat mengulang dan memperbaiki cara ku yang terlanjur mengumbar hasrat. Aku begitu egois dengan rasa ku terlanjur melukai mu. Aku begitu picik dengan taktik yang mengorbankan ketulusanmu. Bisakah ku minta itu kembali lagi? Bisakah aku merasakan cinta itu kembali?.
Sayang inilah rasa yang akan ku ucap pada mu hari ini, tepat saat tanggal dua meski bulan dan tahun yang tak lagi sama. Sayang, bisakah kita kembali menjadi sosok itu dengan rasa itu?, aku ingin mengulang kembali kisah yang telah lama ku tanam namun dengan sedetik saja ku hancurkan. Sayang, aku sangat menyesal karena telah menyia – nyia kan cinta tulus mu. Dengan kesabaran, kau mengukir cinta di atas kerasnya hati ku.
Suatu hari yang tak lagi ku ingat, hampir setiap pagi, siang, dan malam aku selalu mengusik ketenangan mu. Aku selalu membalas pesan mu yang memang sangat terasa begitu tidak sesuai dengan harap mu. Begitu manis kata yang kau ucap, namun tidak dengan balasan ku yang begitu menyayat. Perlahan aku menyakitimu dengan keseharian yang tak lagi sama. Melalui bahasa ku ungkap kejenuhan ku dengan tidak memperdulikan keadaan mu yang mungkin penuh tekanan. Aku sangat ingat sekali, betapa manis nya kau membangun kan lelap nya tidurku dengan kata sayang yang selalu kau berikan, begitu indah dan romantisnya hati mu, namun tak pernah sedikit pun rasa syukur melekat dalam benak ku.
“Selamat pagi sayang” Ucap mu melalui pesan singkat itu. Kau tau kekasih ku, sesungguhnya aku telah membaca pesan mu, tetapi entah mengapa begitu malas rasanya membalas kata hatimu. Ku taruh kembali handphone itu ke atas meja, ku biarkan berlalu hingga terlelap. Mungkin kau begitu lama menunggu hingga pesan singkat itu kembali kau sampaikan.
“Bangun sayang, udah siang”…. Lagi – lagi dengan rasa malas ku angkat handphone ku, ku baca pesan itu. Rasanya malas sekali membuka pesan mu, aku pun tak mengerti hati ku. Namun, jangan lah kau berfikir bahwa saat itu kau telah hilang dari hati ku. Sesungguhnya kekasih ku, ada satu rasa yang tidak mengindakan hati ku, dimana rasa itu telah meracuni hasrat inginku untuk mu. Bukan, bukan karena orang lain, melainkan ada satu ingin ku yang begitu besar tak jua kau turuti. Tetapi itu salah ku, memang salah ku. Aku tak pernah berterus terang kepada mu tentang apa pun yang aku ingin kan, hingga akhirnya membuat ku terdiam dan marah dengan mu.
Kini terlihat puncak dari amarah yang terpendam, tak mampu lagi rasanya membendung rasa yang dalam, hingga aku memilih jalan untuk berkomunikasi dengan orang lain selain dirimu. Tahu kah kau kekasih ku, beberapa tahun yang lalu, saat itu aku sedang menjadi mahasiswa baru di kampus Hijau tercinta ini. Memang benar sekali, kau terlebih dahulu mengenal ku melalui twitter itu, dan kita dengan asik nya bercakap ria hingga saling bertukar nomor handphone, kita pun semakin hari kian mendekat. Senang rasanya bisa berkenalan dengan kakak tingkat yang begitu baik seperti mu. Hari itu, ada BBQ di Masjid Al-Wasi’i dengan malu kau mengajak ku untuk pergi bersama mu, dan ahirnya kita berjumpa untuk kali pertama yang sebelumnya belum mengenal antara satu dengan yang lain. Ah tidak, bukan maksut ku belum mengenal, hanya saja belum sempat bertatap muka berdua sebelumnya sehingga aku belum begitu paham akan wajah mu. Hari itu ku lihat kau memberhentikan motor mu di pinggir jalan tepat di hadapan Fakultas MIPA. Dengan perlahan ku sapa diri mu “Kak Rifki kan?” dank au mengiyakan dengan senyuman, yaah walau pun jarak kita dengan tujuan begitu dekat, dapat ku kata kan sangat nanggung merasakan berdua di atas motor mu, karena begitu dekat.
Itulah kali pertama kita berjalan bersama, dan pulang pun kita bersama. Tapi maaf kan aku, karena tak langsung mengagumi mu. Aku hanya merasa senang dengan harapan kau dapat menjadi kakak ku. Hari - hari kita jalani dan sering sekali berkomunikasi bahkan berjumpa. Sayang, cinta ku tidak langsung tertanam untuk mu. Kau ingat kekasih ku, saat itu kami mencari – cari tanda tangan para senior, alumni, dan kakak tingkat sebagai ajang perkenalan kepada yang bersangkutan. Betapa ingin aku meminta tanda tangan mu yang pertama, tetapi tidak di perbolehkan karena menyalahi aturan. Sehingga harus mencari angkatan yang lebih tua dahulu, hingga akhirnya aku berhasil meminta tanda tanganmu.
Maafkan aku kekasih ku, karena pada saat itulah cinta tumbuh dalam hati ku. Aku terpana pada sosok yang berada di hadapan ku saat aku merasa ditipu oleh para senior yang mengerjaiku. Hari itu, aku menggunakan jilbab orange di panggil oleh salah seorang senior yang sedang asik bercanda bersama dengan teman-temannya di halaman gedung B. Kemudian aku diminta oleh mereka untuk menyapa seseorang yang tengah berjalan menuju gedung C. Tepat di hadapan gedung B di belakang Fakultas Hukum aku menghentikan langkahnya yang cepat. Dan ia berhenti pula dengan cekatan. Aku menatap wajahnya yang sayu, matanya yang tajam, dengan caranya memandang ku. Aku bisa merasakan gejolak yang saat itu muncul di hadapan ku. Maaf kan aku yang terpesona akan diri nya. Aku merasa getaran yang luar biasa terasa dalam hatiku, membuat ku tersipu dan enggan melaju. Namun waktu begitu cepat seolah tak menyukai hadir ku. Dia, dia yang lebih dahulu singgah di hatiku. Tetapi fakta yang berkata bahwa ternyata aku bukanlah sosok yang pantas mendekatinya lantaran hatiku mulai terpaut akan dirimu.
Aku mulai terkesima padamu yang sangat memperhatikan ku. Kau selalu ada menemani ku saat aku sedih dan juga bahagia. Perlahan kau memberikan warna pada keseharian yang mungkin tampa mu aku tak akan pernah merindu. Aku sangat senang kau menjaga ku dengan ketulusan hati, dengan begitu mudah kau menautkan cinta yang semakin hari semakin tertanam indah dalam relung hati ku.
Sejak saat itu, kedekatan kita semakin hari semakin menambah. Kau pun tak segan memperkenalkan aku pada keluarga mu meskipun cinta belum menautkan kita. Kau tau kekasih ku, kebahagiaan ku di mulai pada saat itu, saat bercakap di rumah indah keluarga mu. Beruntung sekali dirimu, memiliki keluarga yang begitu romantis, sama seperti kita yang selalu romantic sepanjang harinya.
#Continue

No comments:
Post a Comment